PENELITIAN DILAKUKAN OLEH: EDI PURWANTO

ABSTRAK

Penelitian atas hubungan Bupati dengan DPRD Kabupaten Tebo tahun 2005-2006 ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil bentuk penafsiran atas praktek-praktek yang terjadi dalam hubungan itu. Penelitian ini mengambil masalah bagaimana konflik itu terjadi dan bagaimana konflik itu diselesaikan serta bagaimana membangun hubungan yang harmonis antara Bupati dengan DPRD Kabupaten Tebo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa motif konflik, perilaku Bupati dan DPRD Tebo dalam menjalankan roda pemerintahan daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan itu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik itu diakibatkan karena kuatnya budaya patrimonial di dalam diri Bupati dan anggota DPRD. Dalam budaya semacam itu, mereka memiliki konsep kekuasaan tunggal. Bupati dan DPRD sama-sama menjadi predator atas sumber-sumber yang ada guna memperkaya diri sendiri. Konsepsi budaya itu dijalankan dalam sistem politik yang menuntut kemitraan dari kedua belah pihak. Akhirnya yang terjadi adalah konflik dalam rangka mencari siapa yang paling berkuasa. Konflik semakin dipertajam karena Bupati tidak memiliki ikatan batin dengan partai di DPRD.

Dalam konflik semacam itu, Bupati berhasil menegaskan eksistensinya sebagai penguasa tunggal karena Bupati memiliki kecerdikan dan kemampuan untuk menggunakan sarana-sarana kekerasan dalam rangka mensubordinasikan DPRD. Sebaliknya, DPRD dengan segala keterbatasan wewenang tidak mampu mengimbangi kecerdikan dan keleluasaan gerak Bupati sehingga harus menerima dirinya disubordinasikan oleh Bupati.

Kedepan dalam rangka mengharmoniskan hubungan Bupati dengan DPRD Kabupaten Tebo perlu dilakukan pendidikan politik untuk membentuk budaya politik evaluatif dan mengubah sistem politik yang bercorak campuran menjadi sistem parlementer murni. Di tingkat lokal, Gubernur adalah Kepala Daerah seperti Raja Inggris dan Bupati adalah Perdana Menteri yang adalah ketua partai mayoritas parlemen. DPRD harus bikameral yang keanggotaan kamar kedua ditunjuk oleh Gubernur.

Berdasarkan kasus Tebo, teori konflik Randall dan teori Elit Mosca, Paretto dan Duverger perlu menambahkan konteksnya. Teori mereka benar apabila budaya politiknya bercorak patrimonial dan sistem politiknya kacau balau. Manusia tidak dengan sendirinya akan selalu seperti hewan karena manusia memiliki rasio. Oleh karena itu dimungkinkan peningkatan budaya politik dan pembenahan sistem politik. Demikian juga teori Gerry Stoker untuk kasus Tebo tidak bisa berlaku. Teori Gerry Stoker hanya akan berjalan setelah terjadi kematangan budaya politik dan perubahan sistem politik menjadi parlementer di Kabupaten Tebo. Teori Ramlan Surbakti pun mengandaikan adanya kematangan budaya politik dan sistem politik parlementer.

ABSTRACT

The research on Bupati and local parliament Relationship in Kabupaten Tebo in 2005-2006 uses qualitative method in a form of interpreting practices in which the relationship occurred. The problems consist of how conflict happened and how it was resolved and how to construct good relations between Bupati and local parliament of Kabupaten Tebo. The research aims to analyze conflict motives, conducts of Bupati and local parliament when they running local governance and the factors which influencing the relations.

The result of the research shows that the conflict emerged from patrimonial cultural with which was overwhelmed to Bupati and members of local parliament of Kabupaten Tebo. In the cultural such this, they had the concept of power as the one power. Both Bupati and pocal parliament became predators on available resources for fulfilling their needs to become rich. Such cultural concept of power was carried out in line of current political system which required both institutions being partner. Finally, such relations became conflict which each tried to find out who the most powerful was. The conflict was sharpened because Bupati had no deep relations with parties in local parliament. In the conflict, Bupati succeded to affirm his existence as a powerful institution who had sole power in Kabupaten Tebo. It was because Bupati had ingenuity and power to use some violent means for subordinating the members of local parliament. On the contrary, local parliament with all limited authority and ability was not able to counteract the ingenuity and authority of Bupati that they had to accept being subordinated.

Next, in order to harmonize relations between Bupati dan local parliament in Kabupaten Tebo, it needs some political formation on Tebo people for forming political culture which has evaluative type and changing political system from mixture system to pure parliamentary system. In local politics, Governor will become Head of Local Area like England King and Bupati will become prime minister which come from majority party in local parliament as a chief or a chief of coalition parties in local parliament. Local parliament has to be bicameral system which the members of second chambre consist of persons who are being appointed by Governor.

Base on Tebo case, conflict theory from Randall and elite theory from Mosca, Paretto and Maurice Duverger have to locate their theory in some context. Their theories will come true when they applies in community which has patrimonial political culture and confused political system like Tebo has. Men is not like any animal because they have ratio. They enable improve their political culture and renew their political system. And Gerry Stoker theory cannot be applied in case of Tebo. Gerry Stoker theory is going to be useful if Tebo community has mature political culture and has changed their local political system to become pure parliamentary system. Ramlan Surbakti theory also suppose some mature political system and parliamentary political system in Tebo community.